Sebuah tablet bernama iPad Pro

Jadi, saya akan bercerita tentang iPad Pro yang sudah saya miliki sejak awal tahun 2019 ini. Nama kerennya adalah iPad Pro 2018, karena memang direlease oleh Apple pada kuarter keempat tahun kemarin. Kita mulai dengan kenapa saya membelinya. Saya boleh dibilang Apple Fanboy, sejak awal punya iPod Video, kemudian iBook (ya, ini era sebelum Macbook) sampai iPhone dan seterusnya. Namun dalam beberapa hal, saya tetap berusaha untuk selektif, penyebabnya hanya satu, harga produk Apple yang relatif mahal! Kalau memang worth dan cocok (di kantong), saya akan consider untuk memilikinya, dan sebaliknya, cukup dikagumi lewat youtube saja untuk tahu kecanggihan teknologinya.

Spesifik untuk iPad, sejak kehadiran pertamanya, tablet berukuran layar 9.7 inci ini sudah mencuri perhatian saya. Benar, saya adalah salah satu pemilik Apple generasi pertama! Dan saat itu rasanya modern sekali, bisa mengetik di virtual keyboard dengan kedua tangan rasanya seperti di film-film sains fiksi Hollywood deh.

Tapi itu saja. Setelahnya iPad tidak menarik perhatian saya, terutama setelah era telepon seluler mulai memiliki layar yang semakin besar, begitu juga dengan iPhone. Setelah iPad 1, saya lebih banyak membeli iPhone satu demi satu dan semua line up iPad pun saya skip.

iPad Pro sempat mencuri perhatian saya pada rilis pertamanya, terutama saat Pencil diperkenalkan. Sebagai orang yang sejak kecil suka menggambar, iPad Pro seperti gadget impian untuk menjadi kreatif menggunakan digital drawing! Namun kembali, saya tetap melewatkan beberapa generasi iPad Pro, hingga akhirnya di 2018 kemarin, Apple merilis produk tablet 11 inci yang super tipis dengan desain klasik ala iPhone 4 dengan sudut tajam, tidak ada Home button dan Pencil 2 yang lebih powerful dan lebih pensil.

OK sah saya memiliki iPad Pro, then what?

Ya benar, iPad Pro 2018 memang keren, modern dan powerfull, tapi kemudian apa manfaatnya buat saya ? Ini yang awalnya buat saya seperti Yin dan Yang mempertimbangkan membelinya, tapi tekad udah bulat dan saya bawa pulang satu unit dengan layar 11 inci dan berkapasitas 64 GB tanpa dukungan selular alias wifi-only.

Awal pemakaian, saya memang masih belum menemukan kegunaannya yang bisa saya jadikan rutinitas. Ya, iPad Pro memang powerfull, tapi saya bukan penggila Fortnite yang bisa menikmati kecepatan grafis di 60fps ataupun artist yang sudah mahir menggunakan Pencil untuk melukis. Saya cuma orang biasa yang termasuk Apple Fanboy yang jatuh cinta pada pandangan pertama dengan iPad ini. Namun, bukan Apple namanya dengan semboyan andalannya dulu There’s an app for that, semakin hari saya semakin menemukan hal-hal menyenangkan yang bisa saya lakukan dengan iPad Pro! Saya bahkan sudah tidak memiliki lagi laptop apapun kecuali yang diberikan kantor saya untuk bekerja. Semua hal keseharian yang membutuhkan teknologi selular dan digital sudah saya lakukan dengan iPhone dan iPad Pro ini.

Yang saya lakukan dengan iPad Pro ini

Hingga saat ini, saya menyukai iPad Pro ini untuk mendukung hobi saya untuk menulis alias blogging, mengedit video dan menggambar tentunya.

Untuk video editing, aplikasi yang istilah Apple adalah Pro App ini ngga main-main, kemampuan aplikasinya plus devicenya sendiri untuk menggarap editan-editan video tanpa lag sama sekali ini sangat mengagumkan, belum lagi aplikasi-aplikasi pendukung untuk mengurangi shake dan suara noise pada video kita. Pokoknya memang banyak sekali deh aplikasi dan kemudahan yang ditawarkan Apple lewat iPad ini, dan iPad Pro ini sukses menjalankannya dengan lancar jaya

Blogging sebenarnya sudah saya lakukan dengan blogsite http://kenapasayalari.wordpress.com yang berisi cerita dan sharing saya seputar dunia lari. Saya mencoba untuk menjadikan blogging ini sebagai rutinitas, dan berkat bantuan Apple Smart Folio Keyboard yang saya miliki, saya seperti menjadi ketagihan untuk membuka iPad dan mulai mengetik sesuatu.. apapun untuk menikmati saat menggunakan iPad Pro saya ini.

Di lain sisi, apapun yang saya lakukan atau mungkin anda juga lakukan dengan iPad Pro dan Apple device lainnya, saya melihat satu kunci penting yang tetap dijaga Apple dalam setiap produknya, dan itu adalah simplicity dan seamless. Anda mungkin belum tahu kalau untuk menghubungkan (pairing) Pencil 2 dengan iPad Pro semudah menempelkan Pencil ke magnet di sisi iPadnya? Atau kalau Smart Folio Keyboard dari iPad ini tidak memerlukan suplai listrik karena hanya menggunakan smart connection yaitu 3 pin kecil di sisi belakang iPad Pro anda ? dan iPadnya pun menempel di keyboardnya dengan magnet!

How simple is that??

Kita hidup di era instan, dimana semua komoditi dan consumer product apaun yang dijejalkan produsen kepada kita harus memiliki unsur tersebut. Semua harus serba praktis, cepat, disederhanakan, dan untuk komoditi yang sifatnya multiproduk, haruslah bersifat seamless diantara lini produknya!

Dan Apple selama bertahun-tahun menginvestasikan riset dan pengembangannya pada bidang ini. Mereka tahu, pada suatu titik, integrasi produk menjadi hal yang esensial dalam memanjakan konsumen untuk selalu menggunakan produk mereka. Disinilah saya bisa menikmati penggunaan iPad bersamaan dengan aksesorisnya seperti Pencil, Smart Keyboard, hingga saat tersambung dengan iPhone dan Airpods saya. Di dunia internet, mereka menyebutnya ecosystem. Ring a bell ? Ya.. produk kompetitornya malah secara “resmi” menggunakan terminologi ini di beberapa branding iklannya. Terlambat ? Ya belum tentu.. teknologi adalah suatu hal yang sifatnya evolving, terus berkembang bahkan cenderung limitless.

Kembali ke iPad Pro

Anda bisa membaca banyak review di internet dan Youtube mengenai iPad Pro ini dan pastinya anda akan dibingungkan dengan komentar dan perspektif yang beragam. Mulai dari pertanyaan dan spekulasi apakah gadget ini bisa menggantikan laptop, bahkan lebih baik dari laptop ? Apakah cocok untuk bisnis ? Well, buat saya, jawabannya kembali kepada kita sendiri. Tanya lah saya, jawaban saya adalah daripada saya membawa laptop, lebih baik saya membawa iPad ini kemana-mana. Saya bisa mengedit video, menonton youtube, browsing, menggambar, main game dengan segala portabilitas dan simplicity yang diberikan. Buat saya, memiliki iPad Pro ini analoginya seperti Gollum dengan cincinnya pada Lord of the Ring yah

Hey.. ngapain bawa bawa gue segala??

Bedanya adalah saat saya terobsesi untuk membuka cover folionya atau membuka layarnya dengan Face ID, keinginan itu “menjelma” menjadi sesuatu yang produktif.. mungkin saya mulai menggambar sesuatu, menulis blog, melihat youtube untuk menonton hal-hal baru. “Cincin Gollum” saya ini menjadi sumber produktifitas, saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk menggambar, menulis membagi pemikiran saya ke dunia luar,membuat video, semua dari satu device!

Last question

Dengan harga yang segitu, apa ngga khawatir kalau nanti ada yang iPad yang baru lagi keluar tahun ini ? Jawaban saya, ngga khawatir. As we speak, saya saat ini pun menggunakan iPhone X yang saya beli tahun 2017, dan berfungsi sebagaimana mestinya. Apple memiliki cara yang unik untuk “menjaga” lini produknya abadi, entah dengan model yang tipikal, iOS yang bisa dipakai hampir di seluruh produk sehingga user experience-nya pun akan serupa walaupun menggunakan jenis iPhone atau iPad yang berbeda.

Semoga tulisan saya ini bermanfaat untuk anda, terutama yang saat ini masih menimbang-nimbang untuk memiliki iPad Pro 2018 ini!