Apple review

Airpods 2 sejauh ini…

Setelah hampir sebulan saya membeli dan menggunakan Airpods 2, saya akan mencoba mengupdate kembali review saya mengenai Airpods 2 ini. Oiya, biar ngga ribet, saya akan menyebut Airpods 2 ini dengan sebutan Airpods saja ya. Jadi jangan bingung kalau koq makin kebawah tulisannya jadi Airpods (aja), ini merefer kepada versi kedua dari Apple Airpods

Buat yang belum tau, secara singkat, Airpods adalah wireless earbuds keluaran Apple. Disebut wireless karena (pastinya) menggunakan teknologi nirkabel Bluetooth dan disebut earbuds karena antara earphone kiri dan kanan tidak terhubung dengan kabel dan menyerupai sumbat kuping alias earbuds (ya.. sort of..). Airpods pertama sudah keluar beberapa tahun lalu dan akhirnya Apple merilis versi kedua dari earbuds ini, namun dengan peningkatan fitur “didalamnya” saja alias dari luar ngga ada bedanya. Apple merubah chipset Airpods dari kode W1 menjadi H1 yang diklaim lebih hemat energi dan cepat dalam melakukan pairing. Selain itu Airpods kedua juga dihadirkan dengan opsi wireless charging case, saya sendiri membeli yang menggunakan case non wireless.
Pada review ini, saya tidak akan mereview soal baterainya, kecepatan pairingnya dan hal-hal yang menurut saya menjadi gimmick saja buat jualan. Untuk saya, yang lebih penting buat saya share adalah hal berikut:
1. Bagaimana pengalaman pemakaian pada umumnya
2. Penggunaannya saat berolahraga dan berlari
3. Apakah worth-the-price, dibandingkan dengan merk lain pada fitur atau rentang harga yang mirip

Looks good? Ok kita mulai

Pengalaman penggunaan secara umum
Secara umum, yang bisa saya katakan adalah NYAMAN. Saya dulu termasuk pengguna earphone Apple yang pakai kabel, disebut Earpods dan saat itu pun saya kagum dengan cara Apple mendesain Earpods tersebut. Simpel, tanpa rubber tips, tapi nyaman dan tidak mudah lepas. Earpods di jamannya memang lebih mudah terlepas dari telinga, tapi itu karena tarikan kabel kita saat terguncang, misalnya saat berlari kan.

Tapi tidak dengan Airpods.

Saya membuktikan apa yang orang tulis atau review mengenai Airpods ini, yaitu sangat nyaman sampai akhirnya anda lupa sedang menggunakannya! Cara industri mendesain earphone, sport earphone, earbuds pada umumnya membuat Airpods dengan desainnya terasa seperti “alien” diantara produk-produk tersebut, berwarna putih dengan desain seperti earphone hadiah kalau kita dulu membeli handphone Nokia atau bahkan seperti Sennheiser di awal-awal popularitasnya.

Tapi setelah saya tempelkan earbuds nya ke dalam telinga kiri dan kanan, disanalah keajaiban terjadi. Awalnya memang terasa ganjil dengan kehadiran earbudsnya yang rasanya lebih seperti “menggantung” dibandingkan menempel seperti earbuds yang dilengkapi dengan rubber tip. Tapi paling keganjilan ini cuma berlangsung 5 menitan saja atau sekitar 1 – 2 lagu, setelah anda mulai menggerakkan badan, kepala maupun ekspresi wajah, disitulah anda akan lupa kalau musik yang ada dengarkan berasal dari earbuds yang “menggantung” selama ini di telinga.

Yang saya suka dari Airpods ini juga charging case nya yang kecil. Sering saya membawa case-nya cukup dimasukkan di kantong koin jeans saja. Konektor internalnya juga dilengkapi dengan magnet sehingga saya cukup memasukkan earbudsnya dan otomatis akan “tertarik” kedalam dan ngga akan meluncur keluar casingnya.
Kualitas suara mungkin bukan yang terbaik, namun dengan menggunakan Spotify dan streaming, saya cukup puas dengan kualitas suara yang balanced dengan bass yang cukup menghentak, serius, cukup menghentak.. Saya sendiri ngga habis pikir, bagaimana bisa earphone yang tidak kedap suara bisa menghasilkan bass yang punchy di telinga.

Sering saya membawa case-nya cukup dimasukkan di kantong koin jeans saja

Saat digunakan berlari atau olahraga lainnya
Ini pasti yang jadi pertanyaan menarik buat anda yang mengikuti blog saya ini maupun blog lari saya. Setuju kalau Airpods secara ajaib bisa menggantung di telinga saat beraktifitas sehari-hari, tapi lain halnya kalau sedang berlari kan?
Pasti lain, tapi sebulan ini saya pakai untuk berlari, gym, termasuk posisi duduk dan tidur, Airpods ini tidak pernah lepas dari telinga saya! Tau sendiri kan kalau sudah lari dan berkeringat, bagian tubuh mana yang ngga basah, tapi Airpods tetap saja bisa menempel di telinga saya dan saya ya bener-bener fokus saja sama lari atau sesi gym yang sedang saya lakukan. Satu kelebihan dari cara Airpods ini menempel di telinga saya adalah tidak bikin telinga pegal. Dibandingkan dengan Bose Soundsport yang pernah saya gunakan, saya pasti tiba di suatu titik dimana saya harus melepas earphonenya dan memasangnya lagi untuk memberi kesempatan rongga telinga rileks sebentar. Airpods ya sebaliknya, saya malah lupa sedang pakai earbuds ini!

Satu yang perlu saya highlight adalah saya masih menggunakan Airpods ini untuk easy to medium pace ya. Kalau nanti saya berkesempatan untuk melakukan interval atau tempo run, pasti saya update lagi reviewnya.
Dibanding lari, saat gym itu musik juga memegang peranan penting buat memacu adrenalin saat melakukan repetisi gerakan, dengan pilihan lagu-lagu techno atau rock, Airpods selalu sukses membuat saya tetap bisa melakukan repetisi angkatan beban dengan sukses dan termotivasi (yaelah), bahkan saat di gym dan musik sedang diputar di dalam ruangannya, saya tetap bisa mendengarkan lagu yang dihasilkan lewat Airpods saya ini lho. Kembali lagi, cara Airpods mengirimkan suara lagu dari speakernya ke telinga saya ini masih menakjubkan buat saya.

Worth the price kah Airpods 2?
Airpods 2 ini dibanderol tidak jauh dari seri pertamanya, paling tidak untuk versi casing non wirelessnya ya. Kalau dibandingkan pada price pointnya, kompetitor Airpods ini diantaranya adalah Bose Soundsport Wireless Free, Jabra 65T Active, Beats X dan Sony sport wireless Noise Cancelling (lupa tipenya). Saya sempat tertaring dengan Jabra karena dari beberapa review earbuds, Jabra ini umumnya menempati posisi pertama. Yang membuat saya memilih Airpods ini adalah karena simplicitynya, saya suka case chargingnya yang kecil, pairingnya yang mudah, tinggal buka casingnya dekat iOS device, satu lagi, kontrolnya yang terbatas buat saya malah menjadi faktor plus karena saya akhirnya ngga ribet sama earphone saya buat atur volume, skip track bolak balik, cukup pasang dan mainkan.

Kembali lagi, cara Airpods mengirimkan suara lagu dari speakernya ke telinga saya ini masih menakjubkan buat saya.

Satu lagi, review bahwa Airpods nyaman untuk pemakaian durasi yang lama dan battery lifenya yang memang luar biasa. Airpods untuk saya menjadi earbuds yang cocok buat keseharian yang commuting, untuk jalan maupun kegiatan sehari-hari terasa nyaman, untuk berolahraga pun sama enaknya.

Jadi itu dia impresi saya setelah satu bulan pemakaian, saya sama sekali ngga menyesal akhirnya memilih Airpods buat earphone companion saya maupun untuk berolahraga. Bagi yang mau memutuskan pilihan mau membeli Airpods 2 atau tidak, semoga tulisan ini membantu.

About BangKei

A professional worker who loves to enjoy life through running and other active lifestyle. Enjoy drinking coffee and one of Apple Fanboy fo'real! Doesn't want to think anything too much, life is simple if you know how to be grateful!

%d bloggers like this: