Adidas BOOST Sub2, empuk ?

Sepertinya sudah agak lama sejak post terakhir saya ya. Memang kebetulan lagi agak sibuk juga di tempat kerja saya, bahkan dalam 3 hari terakhir ini saya hanya bisa tidur 4 jam per harinya karena harus kerja dari siang hingga paginya!
Yang mau saya ceritakan sekarang ini adalah salah satu sepatu yang saya miliki, agak jarang saya pakai sebenarnya karena memang kategori sepatunya adalah “racing flat” dan hampir setengah tahun ini saya belum mengikuti race apapun.

Kalau anda mendengar sepatu Adidas BOOST, apa yang terbayang sama anda ? Kebanyakan mungkin akan membayangkan sepatu dengan sol yang empuk, upper yang berwarna cerah ataupun hitam tapi trendi. Ya, line up Boost sudah menjadi flagship Adidas yang menjelma dari sepatu lari ke sepatu lari (tetap) yang memiliki style dan ciri khas yang unik. Lain halnya dengan sepatu yang satu ini, diberi nama Boost Sub2, sepatu ini adalah racing flat yaitu sepatu yang didesain untuk berlari kencang. Di kaki saya memang tidak serta merta menjadikan saya bisa berlari dengan pace yang menakjubkan, namun sepatu ini cukup buat membuat saya lebih mau memacu adrenalin dan pace buat lebih mengangkat kaki dan berlari lebih kencang.
Sepatu Sub2 ini memiliki desain yang unik dan terkesan sederhana sekali. Uppernya tidak menggunakan bahan knit atau apapun, namun mengunakan material seperti mesh atau jaring yang tembus pandang, jadi sepatu ini seperti memiliki upper yang terkesan seadanya gitu.. Bahkan logo 3-stripesnya saja seperti hanya disapukan cat putih saja tanpa ada variasi apapun lagi. Sol jelas menggunakan Boost yang diberi motif loreng-loreng abu-abu putih.

Yang ngga kalah unik dari sepatu ini adalah sol bawahnya yang menggunakan karet ban Continental dari ujung kaki hingga ke tumit. Selama saya gunakan, cengkeraman karet ban ini memang terasa…ya..seperti karet ban.. super grip dan enak buat toe-off.
Kelihatannya sepatu ini belum dikeluarkan iterasi keduanya di pasaran, Adidas lebih menjual tipe Boston Boost dan Adizero Adios yang lebih tebal dan memiliki upper yang lebih kekinian.

Bahkan logo 3-stripesnya saja seperti hanya disapukan cat putih saja tanpa ada variasi apapun lagi

Menggunakan sepatu ini itu seperti love-hate relationship, enak di kaki tapi rasanya ke arah paha, pinggul hingga pernapasan ya bisa lain jadinya! Enak menapak tapi napas kan jadi memburu kalau sempet overpace. Kalau anda tidak biasa pacing ataupun mentargetkan lari anda (misalnya target mileage atau average pace dan lainnya) anda akan cepat kelelahan menggunakan sepatu ini. Karena desainnya yang minimalis, sepatu ini hampir mengoptimalkan semua otot di telapak kaki hingga ke pinggul saya. Istilahnya ngga mudah menaklukkan sepatu ini untuk jadi sepatu yang nyaman dipakai.

Apa sepatu yang lebih enak dari ini? Buat saya yang pasti ya rival sepatu ini saat dirilis, yaitu Nike Zoom Fly. Kelebihan sepatu Zoom Fly adalah sepatu tersebut menggunakan carbon plate sehingga walaupun solnya tebal, saat toe-off saya terasa lebih effortless paling tidak beberapa persen lah, dibandingkan dengan racing flat yang pasti akan mengaktifkan otot betis saya saat toe off.
Apakah sol Boost-nya ngaruh ? Jawaban saya adalah masih terasa dan berpengaruh! Buat saya ini cukup hebat, mengingat tebal sol Boost sepatu Sub2 uni ngga bisa disamakan dengan Ultra Boost, Pure Boost atau lainnya. Saat striding, saya masih bisa merasakan sensasi “keempukan” sol Boost yang segera diikuti dengan toe-off yang responsif karena struktur dari sepatunya.

Kalau anda penyuka sepatu Adidas, Sub2 ini boleh anda pertimbangkan untuk miliki, paling tidak saat berlatih speed work, anda tetap bisa mempertahankan psikologis menggunakan sepatu dengan sol Boost sambil melatih otot kaki yang menjadi korban sepatu racing flat ini.

Apakah sol Boost-nya ngaruh ?

Apakah ada yang punya sepatu yang serupa dan punya pengalaman untuk dibagi ? Silahkan tulis di kolom komentar yaaaaa