Kuliner review

Sate Taichan, saya menyesal…

Sejak kecil, saya termasuk penggila sate ayam, karena untuk mendapatkannya tidaklah sulit. Setiap malam selalu ada tukang sate Madura yang lewat di depan rumah kami dan ada saja saatnya kami akan makan sate ayam tersebut. Tentunya karena masih kecil-kecil, sate ayam tersebut saya santap dengan nasi putih, dan saya sangat menikmati saat dimana bumbu kacang yang masih ada di piring saya campur dengan nasinya dan saya lahap..

Beranjak dewasa di masa SMA ke kuliah, saya baru mengenal yang namanya sate kambing. Sebenarnya sih kedua daging ini (ayam dan kambing) penyajiannya mirip-mirip yaitu dibakar dan disajikan dengan bumbu. Untuk sate ayam Madura, jelas mereka akan menggunakan bumbu kacang ya, nah untuk sate kambing memang ada yang suka memakai bumbu kacang, walau saya sendiri lebih suka penyajian khas sate kambing dengan kecap manis dan potongan bawang.

Dalam beberapa tahun terakhir, saya tau ada yang namanya sate Taichan, dan saya ngga punya ide sama sekali sate macam apa ini. Di tempat tinggal saya di Depok, sudah ada yang namanya Sate Taichan Bang Gondrong dan beberapa resto sate serupa lainnya. Di Jakarta, ternyata ceritanya lebih seru lagi, kalau anda ingat masa-masa sebelum Asian Games, ruas jalan Asia Afrika yang menuju TVRI pasti jadi langganan “macet lokal” karena orang parkir dan pergi meninggalkan area penjualan sate Taichan disana kan?! Bukan cuma naik motor, pengguna mobil pun memarkirkan kendaraannya disana dan benar-benar “memakan” ruas jalan Asia Afrika tersebut.

Fast forward ke pasca Asian Games, saya hanya tau bahwa biang kemacetan di ruas jalan tersebut sudah tidak ada lagi, mau dipindahkan, dibubarkan atau alih usaha jadi penjual cilok, saya ngga peduli lah. Barulah pada bulan kemarin, ya bulan kemarin akhirnya saya mencoba yang namanya sate taichan! Itu pun secara ngga sengaja memilih makanan secara acak saja saat berkunjung ke Food Court Ampera. Karena lagi pengen nyobain makanan lain yang istilahnya belum pernah dirasakan, akhirnya saya pesan seporsi sate tersebut, dan barulah saya tahu rasanya daging ayam yang dipanggang dengan arang dan disajikan tanpa bumbu ataupun kecap tersebut, hanya ditambahkan bawang goreng dan bumbu penyedap (keliatannya). Setelah merasakannya disana, saya masih merasa suka aja dengan kuliner yang satu ini, kelanjutannya adalah saya saat saya pergi membesuk ke daerah Karawaci, disana saya diajak lagi oleh teman saya untuk makan sate taichan dan alhasil semakin akrab lah lidah saya dengan sate ini!

Dan akhirnya teman saya pun nyeletuk kalau lu bilang suka taichan tapi belom ngerasain yang di Senayan, berarti lu belum tau bener namanya taichan… dan pikiran saya pun langsung melayang ke kemacetan yang sangat saya benci beberapa bulan sebelumnya dan langsung ngeh bahwa itu dia gerombolan kuliner sate taichan paling top di Jakarta, dan saya melewatkannya! Teman saya pun bilang kalau penjual-penjualnya sudah direlokasi ke parkiran Senayan City, jadi tetep masih ada dan masih di seputaran Senayan.

Tanpa tunggu lama lagi, besoknya saya benar-benar langsung menuju ke arah Senayan City untuk mencoba sate taichan di “pusatnya” langsung! Browsing internet sedikit, saya pun akhirnya tahu kalau lokasi tepatnya adalah di parkiran motor diluar Senayan City, dan memang sepertinya saya pernah tahu kalau pas pulang dari sana ada area terbuka yang “tiba-tiba” diisi dengang orang-orang yang menikmati makanan (yang saat itu pun saya juga ngga tahu kalau itu sate taichan…). Sesampainya disana, saya agak bingung karena area yang dimaksud masih berisi motor, sesuai peruntukannya parkiran motor. Setelah bertanya sama petugas sekuriti disana, saya diberitahu bahwa memang ada kuliner taichan namun baru nanti jam 10 malam keatas.. Oke, serius jam 10 malem? Koq baru kali ini seumur-umur ada kuliner “mau” disuruh buka jam 10 malam, disaat orang ya sudah kenyang dan pulang kan ?! Kembali saya buka hape dan browsing, memang benar kalau kuliner taichan disana bukan mulai jam 10 hingga dini hari.. oke deh, toh saat itu sudah hampir jam 9 kita tunggu aja deh sampai jam 10 kalau gitu.

Masih penasaran, jam 9 lewat saya mencoba “ngintip” ke lokasi tersebut, siapa tau sebelum jam 10 udah buka.. dan ternyata belum buka. kembali saya pastikan ke security yang menjaga disana, dan kembali mereka bilang nanti jam 10 malam bukanya. Ya sudah saya ngga mau mikir panjang lagi, tunggu aja sampai jam 10 malam sambil nunggu di Starbucks yang kebetulan berada di lobby yang berhadapan ke arah parkiran motor tersebut. Saya pun memesan segelas kopi hangat sambil menghabiskan waktu, hingga saat saya akhirnya menoleh ke arah parkiran motor tersebut, saya pun terkejut melihat kepulan asap yang menggunung dari area parkiran !! OOOYEAHH ternyata bener disitu kuliner taichannya! Ternyata memang harus menunggu jam 10 karena operasional area parkirnya.

Segera saya bergegas menuju kesana dan mencoba melihat beberapa “lapak” yang saya sempat baca di internet sebagai pedagang taichan yang direkomendasikan. Lokasi area parkir motornya disulap sedemikian rupa sehingga semua pedagang “dijejer” berkeliling dengan area tengahnya adalah area lesehan diatas terpal yang ternyata sudah dikavling oleh masing-masiung pedagang. Penyajian satenya memang sama dengan sate-sate yang saya makan sebelumnya di Ampera dan Karawaci yaitu disajikan dengan sambel dan bawang goreng serta bumbu penyedap (yang rasanya sih seperti bumbu Indomie ya kalau menurut saya). Perpaduan daging yang disiram dengan minyak dan dibalur bawang goreng saja sudah terasa nikmat dan memang membuat satenya jadi terasa juicy, apalagi dicocol lagi dengan penyedap dan sambel kan?!

Kalau saya perhatikan, apabila ada serombongan orang datang dengan jumlah 4 hingga 5 orang, biasanya mereka akan memesan 70 sampai 80 tusuk sate, dan pada umumnya sate yang dijual di Senayan ini ukurannya relatif besar dibandingkan di dua tempat sebelumnya yang saya kunjungi. Rata-rata sih pada habis ya sate yang dipesan, jadi memang menyantap sate taichan ini jadi seperti makan kacang jadinya.. baru selesai kalau satenya udah habis!

Selain sate taichan, di area tersebut juga kelihatan penjual nasi goreng, nasi gila, surabi, tempe mendoan yang juga lezat sama pilihan minuman botol atau kelapa muda.

Singkat cerita, saya akhirnya sah mencoba sate taichan dengan mengunjungi pusat kulinernya di Senayan tersebut!

Untuk anda yang belum pernah kesana, di bawah ini adalah beberapa informasi dan tips kalau anda mau kesana agar tidak bingung-bingung atau jadi ngga total menikmati satenya:

  • Kalau anda memang berencana kesana, ada baiknya anda memakai sendal, karena untuk lesehan tentunya anda akan melepas alas kaki kan. Lebih kepada kepraktisan saja sebenarnya
  • Selain sendal, karena ini area terbuka dan kita akan lesehan agak berdempetan, kalau memang direncanakan lebih baik pakai pakaian yang longgar dan tidak terlalu tebal, saya belum bilang bahwa sambal yang disajikan hampir di semua pedagang sangat pedas!
  • Kalau anda bawa mobil, silahkan parkir di basement Senayan City. Kuliner ini memang diorganisir oleh pihak Senayan City, nanti saat anda pulang anda bisa mengakses parkiran basement lewat ramp keluar masuk yang dekat area kulinernya
  • Strictly cash only, setahu saya ngga ada cashback Ovo atay Gopay tersedia saat ini
  • Harga satenya, setelah saya cek ke empat pedagang, harganya sama semua yaitu Rp 2.500 per tusuknya. Anda diharapkan memesan per sepuluh tusuk untuk kepraktisan
  • Kalau mau variasi, dianjurkan pesan per sepuluh tusuk per pedagang. Makan dan setelahnya pindah lagi
  • Kebijakan penjual saat mengantar pesanan berbeda-beda, namun anda bisa meminta tambahan bawang goreng dan bumbu penyedap bahkan sambalnya kapanpun, ga usah ragu

Saya tidak mau cerita, sate mana yang direkomendasikan dibanding lainnya, anda bisa browsing dan googling di internet mengenai review kuliner taichan Senayan ini. Yang bisa saya bilang adalah masing-masing penjual memiliki ciri khasnya masing-masing. Ada yang besar dagingnya standar namun rasanya enak, ada yang disajikan relatif kering, ada yang terasa berminyak atau juicy sekali. Termasuk cita rasa sambalnya pun ada yang standar hingga pedas sekali, semuanya tergantung dengan anda sukanya dengan penyajian seperti apa. Saran saya sih adalah mencoba beberapa pedagang yang ada disana untuk membandingkannya sendiri baru memutuskan mana yang menjadi favorit anda.

Selamat mencoba dan menikmati sate taichan.. yang saya memang akhirnya menyesal karena tidak saya makan sejak dulu!

About BangKei

A professional worker who loves to enjoy life through running and other active lifestyle. Enjoy drinking coffee and one of Apple Fanboy fo'real! Doesn't want to think anything too much, life is simple if you know how to be grateful!

%d bloggers like this: