Smartwatch atau jam tangan analog ? Ini menurut saya..

Kita hidup di era digital, hampir semua digital. Mungkin saat ini hampir sulit menemukan orang yang “hidup” tanpa memakai telepon selular, bahkan anak bayi pun sekarang doyannya maenan hape dibanding mainan beneran! Tapi yang mau saya tulis disini bukan mengenai teknologinya, namun lebih kepada opini bahwa ada memang beberapa hal yang lebih baik tetap dalam bentuk analognya.

Saya mau bicara tentang smartwatch

Tadinya saya mau menyebut jam diital, namun sebutan itu sudah melekat sama semua jam baik di tangan maupun dinding dan diatas meja yang menggunakan display LCD untuk menunjukkan waktu dan bukan jarum analog. Jadi kita tetap sebut dengan istilah smartwatch.

Sebagai awalan, saya akan mulai dengan pernyataan bahwa saya adalah pehobi jam tangan. Belum masuk kategori kolektor.. masih jauh..di tahun 2006an saya senang mengkoleksi jam tangan terutama Casio G-Shock. Saya suka jam tangan, saya memastikan jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan saya akan menggambarkan karakter dan menyatu dengan saya! Jam tangan adalah bagian dari fashion statement untuk saya. Dan karena postur badan saya yang besar, saya menyukai G-Shock karena identik dengan produk jam dengan ukuran diameter yang besar.

Hobi menggunakan jam tangan ini mulai bergeser sejak saya mulai menggunakan GPS Watch, saat saya mulai berlari di tahun 2013an. Sebagai penyuka jam tangan dan semua tentang teknologi, GPS Watch saat itu buat saya sudah keren banget! Kalau membayangkan GPS kan yang terlintas pasti alat GPS garmin yang dipakai penjelajah atau alat di kapal boat untuk mengarahkan rute perjalanan, dan saat itu menggunakan jam tangan yang bisa nyambung ke satelit dan memetakan pergerakan saya lengkap dengan informasi kecepatan, pace, dan lainnya.. it’s a wow!

Produsen jam GPS pun mulai melengkapi produknya dengan fitur-fitur notifikasi layaknya smartwatch namun ya masih dalam bentuk jam tangan biasa. Ambil saja contoh Suunto Ambit 3, Garmin Fenix 3.

Dan setelah itu muncullah era jam pintar dengan semakin populernya Apple Watch, dan muncul lagi Samsung Gear dan manufaktur lainnnya pun berlomba membuat jam pintar yang identik dengan layar berwarna, notifikasi, dan tampilan yang bisa diubah sesuai selera dan karakter kita. Saya juga pernah membeli Apple Watch 2 dan mencobanya, dan akhirnya kembali ke jam GPS, dan sekarang pun mulai membeli jam tangan analog untuk mendampingi jam GPS tersebut, dan jam analog ini pun saya putuskan untuk beli setelah dibandingkan dengan jam Apple Watch 4! Kenapa bisa begitu ?

Mari kita mulai…

Sebagai penyuka teknologi, ide memiliki jam tangan pintar pastinya valid. Memang fungsinya sebagai “perpanjangan tangan” dari telepon selular yang kita miliki ini bisa dibilang love-hate needs, toh sudah seperti kebiasaan bagi kebanyakan orang untuk mengeluarkan ponsel dari saku, tas atau laci meja untuk sekedar melihat notifikasi?! Saya pribadi saat menggunakan Apple Watch hanya menemukan beberapa momen dimana fitur unggulan jam pintar memegang peranan penting, mungkin notifikasi telepon saat saya meeting dan harus memasukkan ponsel ke saku, saat berkendara kalau ada notifikasi yang memang saya tunggu. Tidak banyak dan kebanyakan dari penggunaannya lebih kepada melihat waktu yang ditunjukkan saja.

Sekarang mari kita lihat contoh jam tangan analog saat digunakan:

3603-XS-MDS-IMPORTANT_FOR_ONLINE_USE_ONLY_1080xGshock1

 

Kemudian, ini adalah smartwatch saat dipakai.. dan saya akan mulai menceritakan opini saya..

Screenshot_2019-07-26 Apple Watch Won't Turn On No ProblemScreenshot_2019-07-26 Samsung Gear S3 Frontier review The smartwatch of the future is now here Review ZDNet(1)

The blank display!

Sebuah jam tangan tentunya kegunaannya adalah untuk menunjukkan waktu. Dan untuk saya, sebuah jam tangan itu harus berupa tali dengan pelat bulat atau kotak dengan jarum atau penanda digital yang tertera di permukaannya. Disinilah bagi saya smartwatch gagal memenuhi kebutuhan saya ini.

Memang saat saya melihat permukaan smartwatch, layarnya akan menyala karena sensor gerakan dan posisi pergelangan tangannya dan saya akan menikmati keindahan apapun yang ditampilkan di layarnya. Namun saat pergelangan tangannya turun, anda akan melihat jam saya ini seperti jam mati, hitam…blank.. Anda ngga bisa membuat foto menampilkan smartwatch anda dengan menghadapkannya ke kamera, sensor pergelangan smartwatch tidak memungkinkan hal tersebut, paling tidak secara default. It’s smart, only when you look at it, not people.. Kalau kedengarannya jadi narsis, yakinlah kalau anda melihat permukaan jam tangan seperti Seiko, G-Shock atau Luminox, sebuah jam tangan memang untuk “dikagumi” secara utuh.

GPS Watch seperti Garmin Fenix 5 (yang saya miliki) dan Suunto adalah smartwatch yang masih saya bisa terima “keberadaannya” karena menggunakan always-on e-paper ink display. Memang jadinya tidak setajam Samsung Gear, tapi masih nampak seperti jam tangan dari sisi manapun saya atau anda melihatnya.

Jadi begitu, buat saya smartwatch adalah jam pintar dengan fitur melimpah dan kustomisasi yang hampir tidak terbatas. Namun belum bisa melengkapi kepuasan menggunakan jam analog yang memang didesain untuk nampak seperti jam tangan penghias pergelangan tangan anda dan menunjukkan karakter anda.

Bagaimana menurut anda ? Apakah anda juga penyuka jam analog namun punya opini berbeda mengenai smartwatch ? Silahkan ceritakan dan bagi di kolom komentar yaaa..