Sehari-hari Tulisan bebas

Computational photography, ini fotografi bukan ?

Coba anda lihat foto diatas, seberapa yakin kah anda kalau foto tersebut diambil dengan kamera SLR atau mirorless menggunakan lensa wide dengan menggabungkan beberapa foto dengan eksposur yang berbeda-beda untuk menghasilkan dynamic range photo alias HDR ?

Atau ini hanya foto yang diambil dengan smartphone dan diedit dengan software aplikasi seperti Snapseed ?

Selamat datang di era computational photography alias fotografi komputasional! Sebuah sistem komputansi umumnya terdapat pada smartphone yang memungkinkan penggunanya untuk mengambil foto dengan hasil layaknya kamera digital dengan lensa tertentu, entah wide angle, zoom hingga blur background alias bokeh untuk foto close up. Sudah tidak perlu lagi membayar mahal untuk “memiliki” lensa 50mm dengan diafragma f/1.4 dengan menggunakan kamera fullframe untuk menghasilkan foto portrait dengan background super creamy. Bahkan beberapa smartphone low to mid level pun sudah memiliki dual camera untuk memungkinkan hal ini terjadi.

Saya sudah menekuni dunia fotografi sejak SMA, mulai dari era film emulsi 35mm, kamera dengan manual focus, memasuki era digital hingga saat ini dengan computational photography ini. Menggunakan kamera dengan sensor Micro 4/3, APS-C hingga fullframe sudah saya rasakan dan lumayan paham kelebihan dan kekurangan masing-masing kelas kamera tersebut. Pertanyaannya adalah apakah computational photography bisa menggantikan eksistensi kamera digital, dan apakah ini juga bisa dikategorikan sebagai fotografi?

Kalau mau dibahas detail, mungkin ngga akan cukup semalaman dan akan ada banyak sudut pandang yang bisa dibilang betul atau salah itu relatif. Namun saya akan melihat dari perspektif filosofi dasar dari fotografi.

Punya lensa prime yang diafragmanya kecil, kamera fullframe ataupun smartphone tercanggih yang menggunakan lensa zeiss atau Leica sekalipun, pada akhirnya fotografi adalah talenta manusia untuk menangkap momen. Beberapa foto pemenang Pullitzer adalah foto-foto yang menangkap momen tertentu yang dianggap langka dan berkesan secara mendunia.

Salah satu contoh mengenai ini adalah saya kerap kali “mengingatkan” teman-teman fotografer pada saat meliput entah acara formal maupun pentas musik agar jangan membiasakan habis motret langsung liat hasil, motret sebentar, liat lagi hasilnya.. “nanti momennya ilang bro, motret aja dulu” begitu lah selalu saya kasitahu ke mereka. Foto terang, tajam, detail, tapi tanpa momen.. hanya jadi gambar diam saja jadinya kan?!

Saat saya menjual semua perlengkapan kamera saya pada tahun 2012, saya tidak terlalu memikirkan lagi untuk ingin memiliki kamera SLR atau sejenisnya yang lensanya bisa diganti-ganti. Saat itu, menggunakan smartphone entah iPhone ataupun lainnya sudah cukup untuk saya untuk menangkap momen yang saya perlukan. Bahkan semakin canggihnya smartphone pada saat iPhone 7 memperkenalkan mode Portrait, saya suka kasihan melihat orang yang jalan-jalan sambil membawa kamera DSLR, bikin berat bawaan aja buat hasil foto yang ngga beda jauh. Bahkan kita sudah sampai di masa dimana smartphone sudah lebih canggih dari kamera point-and-shoot kan ? Jadi yang namanya era Canon G10 dan lainnya sudah hampir terlupakan.

Mungkin pendapat saya ini ngga sepenuhnya benar, tentunya kembali ke pemahaman mengenai fotografi itu lagi ya. Kalau saya, menangkap momen adalah alasan saya menekuni fotografi. Jadi yang namanya computational photography bisa saja menggantikan kamera digital untuk keperluan sederhana seperti yang saya butuhkan. Nah, yang terkadang menjadi bias mengenai pemahaman ini adalah, seakan-akan setiap orang yang mampu memiliki smartphone canggih bisa menganggap dirinya fotografer dengan tujuan menangkap momen tersebut!

Maksudnya bagaimana ?

Bicara fotografi bukan hanya bicara lensa, kamera, ISO, diafragma dan lainnya. Fotografi juga keilmuan yang perlu dipelajari dan perlu jam terbang untuk mempraktekkan dan pada akhirnya memiliki kekhasan dan ciri khusus pada diri kita…sebagai fotografer.

Pernah dengar rule of third, golden time, bird eye view, eye level ? Masih banyak lagi bahasa dan ilmu fotografi yang dulu saya pelajari dan gunakan setiap harinya, dan saat ini saya praktekkan dalam menggunakan fotografi komputansi. Sebuah foto close-up paling bagus diambil dengan memfokuskan lensa pada kedua mata dan proporsi antara wajah dan bahu pada frame pun harus sesuai dan foto diambil dengan lensa smartphone sejajar dengan mata objeknya.

Itu maksudnya.. pada akhirnya, foto yang bagus memang memerlukan teknik pengambilan yang baik juga! Saya sering melihat foto-foto yang diambil oleh teman-teman saya dengan smartphone yang sudah canggih namun hasilnya ya hanya sekedar bokeh aja.. ngga lebih dari itu.

Akhir kata, computational photography ataupun kamera digital adalah tools atau peralatan kita, untuk mengambil momen dengan teknik fotografi yang benar dan tepat! Saya tetap mengagumi hasil foto yang diambil dengan kamera fullframe plus lensa 50mm, terlihat lebih natural, creamy dan cerah! Namun untuk keperluan sehari-hari saya, mensimulasi hasil foto serupa dengan menggunakan smartphone pun sudah lebih dari cukup untuk saya.

Bagaimana menurut anda ? Apakah anda seorang fotografer dan memiliki pandangan yang sama atau berbeda mengenai computational photography ini ? Mari tulis opini anda di kolom komentar untuk kita diskusikan!

Credit kepada pemilik foto original yang digunakan

About BangKei

A professional worker who loves to enjoy life through running and other active lifestyle. Enjoy drinking coffee and one of Apple Fanboy fo'real! Doesn't want to think anything too much, life is simple if you know how to be grateful!

%d bloggers like this: